Skip to main content

Ilmu yang Mengalirkan Pahala



Syukur... bila diri dikurniakan ilmu, walau sedikit, namun mampu dikongsi. Kerana ilmu itu bukan sekadar untuk disimpan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bila ia digunakan oleh orang lain, dan terus diamalkan, maka pahala itu mengalir... tanpa henti.

Allah SWT berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa darjat.” — Surah Al-Mujadalah, ayat 11

Inilah antara amal jariah yang tidak terputus. Ilmu yang bermanfaat, yang menjadi pelita dalam kegelapan, penunjuk arah dalam kebingungan, dan penawar dalam keresahan. Ia tidak perlu megah, cukup sekadar memberi manfaat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga.” — Hadis Riwayat Muslim

Dan apabila ilmu itu menyentuh jiwa, memudahkan urusan, atau membuka jalan kepada kebaikan, maka ia menjadi ladang pahala yang subur. Kita mungkin tidak tahu siapa yang mendapat manfaatnya, tetapi Allah Maha Mengetahui.

Teruskan berkongsi. Teruskan memberi. Kerana dalam memberi, kita sebenarnya sedang menerima—pahala yang tidak ternilai, dan keberkatan yang tidak terjangka.

(juz share tuk ingatan diri sendiri)

Comments

Popular posts from this blog

Sombongkah aku....

Antara langkah mengenal pasti adanya penyakit ini ialah melalui pergaulan sesama manusia. Melalui pergaulan, akan dapat dikesan sifat sombong yang hadir tanpa disedari…Dan Allah amat membenci mereka yang sombong. Tanda –tanda sombong …. 1. Payah menerima pandangan orang lain sekalipun hatinya merasakan pandangan orang itu lebih baik daripadanya. Apatah lagi kalau pandangan itu datang daripada orang yang lebih rendah daripadanya sama ada rendah umur, pangkat atau lain-lain lagi. 2. Mudah marah atau emosional. Bila berlaku perbincangan dua hala, cepat tersinggung atau cepat naik darah kalau ada orang tersilap atau tersalah. 3. Memilih-milih kawan. Suka berkawan hanya dengan orang yang satu ‘level’ atau sama taraf dengannya. Manakala dengan orang bawahan atau lebih rendah kedudukannya, dia tidak suka bergaul atau bermesra, takut jatuh status atau darjat dirinya. Yakni dia suka dengan orang yang mahu mendengar dan mentaati kata-katanya. Mereka inilah saja yang dia boleh bermesra, ...

Kegagalan demi kegagalan

 kegagalan demi kegagalan mengekori berulang kali mencuba dan terus mencuba namun hanya buntu yang menemui sehingga rasa hampa bertamu  menghimpit sesak di dada mungkinkah semua akan berakhir Jika diri memilih untuk berhenti berjuang Pada saat ini sedangkan  Begitu lama bertahan Akan sia sia kah  Segala sakit pahit  Yang pernah dilalui Tanpa hasil yang diharapkan... Duhai hati ...teruskan bertahan

~dimana hatimu...

Saat jiwa memintal resah... Saat rasa memanjat duka... Saat lemah menguasai diri... Saat air mata menjadi saksi... Berjanji menjauhi kisah semalam... Memaksa diri memintal azam... kembali mensucikan hati yang hitam... namun... ujian datang menguji iman... ingin dijauhi makin mencengkam... merobek rasa yang cuba ditahan... hingga manik jernih jatuh berderaian ... sakitnya cukup menyesakkan... pada siapa harus ku mengadu...ke mana harus ku meminta... ke mana harus ku melangkah...mencari yang memahami... mengharap ada yang sudi...berkongsi duka yang bertapa... akhirnya apa yang kutemui...hanya nista bercampur hampa... mengapa diri masih tak sedar...dugaan hadir bukan untuk disiakan... tapi untuk diri kembali mengiyakan...hanya rahmat Allah Ya Rahman Ya Rahim... yang bisa menyelamatkan...tempat bergantung segala harapan... saat diri keseorangan...di mana hatimu kau campakkan...